Catatan Lelaki Pemetik Hujan

penuliscemen:

 Dari tadi langit mendung, tapi hujan masih urung. Entah apa yang menahan langit untuk meneteskan bulir-bulir air. Aku menunggu. Menunggu hujan, menunggu rindu. Darimu

—————————————————————————————————————————————————————————

Akhirnya hujan turun. Lembut sekali. Satu persatu tetesnya menabuh genderang. Aroma tanah dan bau rerumputan basah menyeruak memenuhi udara yang lembab.

Aku saat ini, menuliskan catatan ini disela-sela tetes hujan. Sambil sesekali melihat keluar dari jendela yang basah.

Lama ya kita tak bertemu? Apa kabarmu? Mudah-mudahan kamu baik. Disini aku terus menulis rindu. Hal-hal  kecil tentangmu. Kamu memang ahlinya. Nggak ada duanya. Kamu menyiksa diriku dengan cara paling indah. Rindu.

Memikirkan seulas senyummu saja sudah cukup membuat aku rindu.

Tapi apakah kita menyimpan rindu yang sama? Apakah disana kamu juga duduk di tepi jendela dan melihat hujan? Apakah kamu juga mengirim rindu sepertiku saat ini?

—————————————————————————————————————————————————————————

Hujan ini seharusnya bisa membuatku nyaman. Tapi berbagai pertanyaan tadi membuatku gelisah. Aku ingin beranjak. Keluar dan mengelupasi tetes hujan satu persatu. Mencari rindu atas namaku.


Pariaman, 20 Agustus 2011
Di Kamar Yang Dipenuhi Namamu